Jumat, 08 Agustus 2008

Budaya Kompetitif di Balik "Booming" IT

Oleh Sri Hartati Samhadi
Diunduh dari Rubrik FOKUS di Harian KOMPAS, Jumat, 18 Juli 2008.

Banyak orang mengaitkan kemajuan dan capaian spektakuler Korea Selatan di berbagai bidang dengan budaya bangsa Korsel yang maunya semua serba cepat atau dalam istilah Cha Young-chul, Deputi Direktur Jenderal Kementerian Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Korsel, ”speedy speedy culture”. Dalam bahasa Korea, ppalli ppalli.
Speedy speedy culture juga tercermin dalam sikap mereka sehari- hari. Tak pernah berhenti bergerak, selalu tampak sibuk dan selalu mau cepat-cepat. Bahkan, kebiasaan orang Korsel minum soju (minuman alkohol khas Korea) dari gelas kecil dalam satu kali tegukan pun dilihat sebagai cermin dari budaya mau serba cepat ini.
Pengamat budaya Korsel lebih melihat speedy speedy culture ini dari sisi positif, yakni gambaran kultur bangsa Korsel yang selalu tepat waktu, efisien, disiplin, rajin bekerja, dan sangat kompetitif.
Awalnya, menurut Cha Young-chul, pelaku bisnis Barat yang tak terbiasa sering melihat ini sebagai sebuah sikap yang kasar atau tidak sopan. Tetapi, mereka kemudian melihat hasilnya pada perekonomian Korsel dan banyak yang kemudian berbalik ingin belajar dari Korsel.
Speedy speedy culture ini menular seperti virus. Orang asing yang lama tinggal di Korsel akan tertulari. Anda juga tak akan bisa hidup di Korsel kalau tidak serba cepat-cepat karena kultur budaya dan persaingan sangat kompetitif,” ujar Cha.
Sudah banyak buku mengulas mengenai budaya kompetitif bangsa Korsel sebagai faktor kekuatan dan keunggulan untuk menghasilkan berbagai terobosan dalam inovasi teknologi. Cha mencontohkan yang terjadi dengan teknologi informasi dan komunikasi, seperti telepon genggam.
”Orang Korea sangat tak sabaran. Mereka sangat haus teknologi baru setiap saat. Sementara seperti Nokia perlu tiga bulan hanya untuk mendapatkan persetujuan untuk mengembangkan produk baru. Itu terlalu lama bagi orang Korea. Mereka kemudian mengembangkan sendiri. Seperti gadget dan fiture games atau tampilan telepon genggam, di sini setiap hari orang bisa ganti,” ujar Cha dalam pertemuan dengan peserta Next-Generation Leaders Program dari Indonesia di Seoul, akhir bulan lalu.
Korea adalah negara pertama yang meluncurkan produk layanan telepon mobile CDMA secara komersial pada tahun 1996. Dua tahun kemudian, jasa layanan internet broadband yang pertama di dunia juga diluncurkan di negara ini.
Disusul capaian spektakuler lain, seperti digital broadcasting (2001), peluncuran e-government (2002), pembangunan layanan percontohan Wireless Broadbank Internet/Wibro (2004), dan peluncuran Digital Multimedia Broadcasting/DMB (2005).
Booming industri teknologi komunikasi dan informasi (ICT) menjadi salah satu faktor penting di balik cepat pulihnya ekonomi Korsel dari krisis finansial 1997 dan menjadi perekonomian yang jauh lebih kuat. Dalam tiga tahun, transaksi e-commerce meningkat dari 7,2 juta transaksi (2003) menjadi 12,8 juta (2006).
Ekspor produk ICT pun melonjak dari 48,4 miliar dollar AS (2001) menjadi 113,3 miliar dollar AS (2006). Sumbangan komponen ICT dalam produk domestik bruto (PDB) riil nasional melonjak dari 10,1 persen (2001) menjadi 16,2 persen pada kurun waktu yang sama.

Kemampuan adaptasi
Pertumbuhan pesat internet dan industri ICT ini dipicu oleh tiga hal. Pertama, cepatnya adaptasi masyarakat terhadap teknologi baru. Antusiasme ini tak bisa dilepaskan dari budaya self-education bangsa Korsel. Revolusi di bidang teknologi digital tak mungkin terjadi tanpa ada dukungan konsumen yang sangat terbuka pada teknologi dan inovasi baru.
Hampir semua warga Korsel memiliki sedikitnya satu telepon genggam. Tingkat penetrasi internet di level rumah tangga mencapai hampir 80 persen, sementara di kalangan industri hampir 100 persen.
Internet dengan cepat menggantikan TV sebagai sumber utama informasi. Dari ibu rumah tangga, siswa SD, pedagang kecil, hingga pekerja kantoran dan kantor pemerintahan sudah memanfaatkan jasa internet ini. Dalam empat tahun, pendapatan bisnis jasa internet melonjak 10.000 persen dari 36,4 miliar won (1999) menjadi 3.700 miliar won (2003).
Faktor kedua adalah ketatnya persaingan antarpenyedia jasa internet, seperti Korea Telecom, Hanaro, dan Thrunet, yang menyebabkan konsumen bisa menikmati harga murah. Ditambah lagi biaya konstruksi jaringan yang bisa ditekan rendah dengan tingginya kepadatan populasi karena 50 persen penduduk Korsel tinggal di apartemen.
Selain itu, tak kalah penting adalah dukungan kebijakan pemerintah lewat strategi IT839 dan e-korean program melalui pembangunan jaringan infrastruktur informasi dan komunikasi berkecepatan tinggi (high-speed information and communication network) sejak 1995.
Dukungan kebijakan itu termasuk dengan menghilang- kan segala kendala aturan dan kebijakan yang menghambat pertumbuhan industri ITC. Jadi, kuncinya adalah kemitraan kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakatnya.
Hasilnya, Korsel berhasil mewujudkan ambisi menjadi information society pada abad ke-21, jauh lebih cepat dari yang ditargetkan. Dalam Indeks Informatisasi global, posisi Korsel terus naik dari urutan 22 (1998) menjadi 12 (2003) dan 3 (2005). Untuk Digital Opportunity Index yang disusun International Telecommunication Union, Korsel di urutan teratas selama dua tahun berturut-turut.
Sebagai kota, ibu kota Seoul juga masih tetap teratas dalam hal e-governance, mengalahkan Hongkong, Helsinki, Singapura, Madrid, dan London.
Keberadaan Korea Ubiquitous Dream Hall Exhibition di Seoul yang memamerkan berbagai teknologi serba digital dan mekanis, termasuk robot-robot untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari, adalah gambaran kehausan bangsa Korsel akan inovasi dan teknologi yang semakin canggih di bidang ICT. Kemajuan teknologi ini akan membuat Korsel semakin cepat berlari.
Tetapi, budaya ppali ppali bukannya tanpa ekses. Masyarakat mengeluhkan banyaknya penyalahgunaan internet. Merebaknya spam dan situs porno yang jumlahnya mencapai sekitar 170.000 situs tahun 2005 dan bertambah 250 situs baru setiap hari hanya salah satu contoh. Sekitar 27,5 persen siswa SMP dan 23,8 persen siswa SMA Korsel dilaporkan juga sudah pada tahap ketagihan internet. (TAT)

Tidak ada komentar: