Selasa, 29 Juli 2008

Tanah Punya Mau

ANALISIS POLITIK
Oleh SUKARDI RINAKIT
Dikutip dari Harian KOMPAS, Selasa, 29 Juli 2008.

Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, memang diam. Tetapi, karya lukisnya, Exodus, berbicara banyak tentang karakter kepemimpinan. Ia seperti ingin berteriak kepada para elite negeri ini bahwa seorang pemimpin yang baik, seperti Nabi Musa, hanya mengantar rakyatnya ke tanah yang dijanjikan. Ia sendiri tidak perlu menjadi ”penguasa” di tanah itu.
Kerisauan seperti yang dirasakan Daoed Joesoef itu adalah kerisauan kita semua. Saat ini kita kering dengan keteladanan seorang pemimpin. Tidak ada tempat bersandar ketika tekanan hidup akibat kemiskinan begitu berat. Banyak elite justru berebut pengaruh membangun citra diri. Sulit mencari figur yang menyadari bahwa kekuasaan adalah pengabdian kepada rakyat.

Tidak murah
Sejauh ini saya masih ragu jika ditanya soal banyaknya jumlah partai politik peserta pemilu. Keraguan juga menyeruak apabila berkaitan dengan banyaknya figur yang mencalonkan diri menjadi presiden. Apakah fenomena itu sebagai wujud kesadaran elite untuk berjuang demi kesejahteraan rakyat atau hanya sekadar mengejar kekuasaan pribadi?
Melandaskan diri pada pusaran arus optimisme, berapa pun jumlah partai yang ikut pemilu, sejatinya tidak masalah. Ini merepresentasi kehendak bersama untuk berjuang demi rakyat. Secara alamiah jumlah itu akan terus mengecil seiring dengan tingkat kesadaran politik masyarakat. Partai yang tidak mendapatkan dukungan publik akan mati dengan sendirinya.
Tetapi, sikap optimisme tersebut juga digelayuti kenyataan bahwa tiap partai membutuhkan banyak tokoh untuk dijagokan menjadi calon anggota legislatif (caleg) Pemilu 2009. Partai besar, seperti PDI-P dan Partai Golkar, bisa membutuhkan 10.000- 15.000 calon. Partai menengah dan kecil paling tidak mematok di kisaran 500 nama.
Jika diambil rata-rata tiap partai mempunyai 500 caleg, misalnya, jumlah tokoh yang diperlukan adalah 17.000 orang. Jika tiap calon mengeluarkan dana rata-rata Rp 200 juta, dana yang berputar mencapai Rp 3,4 triliun. Padahal, ini hitungan pesimistis karena ada partai yang mematok angka sekitar Rp 2 miliar bagi kadernya agar lolos menjadi calon.
Pemilu pada akhirnya memang tidak murah. Ini belum kalau pemilu presiden ikut diperhitungkan. Tetapi, karena posisi politik menjanjikan kehormatan (martabat), ia pun dikejar oleh para petualang politik.
Kenyataan politik itu secara otomatis akan menghambat regenerasi kepemimpinan. Figur muda yang berkualitas tapi tidak mempunyai modal akan ragu menjadi batu penyangga pilar partai politik.
Selain itu, biaya politik yang tinggi juga akan menghambat upaya pemberantasan korupsi. Pendeknya, silakan penjaga moral berkhotbah, tetapi korupsi akan jalan terus pada masa depan.
Jika posisi anggota legislatif saja dikejar demi martabat dan citra diri, apalagi posisi eksekutif yang menjanjikan lebih banyak hak-hak istimewa. Tidak mengherankan jika banyak wajah yang tiba-tiba ramah dan menyapa publik. Sang tokoh bergerak-gerak di layar kaca atau terpampang di baliho, sementara rakyat merintih di lorong-lorong kampung kumuh dan tanah becek pedesaan. Tidak tampak ada benang-benang halus yang menghubungkan kalbu mereka.
Namun, saya ingin bersikap optimistis. Munculnya banyak wajah yang siap menantang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilu mendatang menandakan bahwa Indonesia terus bergerak. Kita tidak diam dan mati. Ada Fadjroel Rachman, Kivlan Zein, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Rizal Mallarangeng, Sultan Hamengku Buwono X, Sutiyoso, Soetrisno Bachir, Wiranto, Yuddy Chrisnandi, Yusril Ihza Mahendra, dan nama-nama lain.
Hanya ini catatan kritisnya. Jika ada tokoh yang percaya sepenuhnya pada kekuatan iklan, ia mengabaikan dua pilar utama sumber dukungan, yaitu alam bawah sadar pemilih dan jejaring sosial. Iklan politik tanpa kesiapan alam bawah sadar pemilih adalah ibarat menanam benih di bebatuan. Adapun iklan politik tanpa jejaring sosial, ia tak lebih dari omong kosong di warung kopi.
Penjelasan tersebut disambut Franky Sahilatua. Dia berkata, ”Bung, apa pun analisisnya, tapi tanah punya mau. Itu tidak bisa ditolak. Sedahsyat apa pun guyuran iklan dan uang, kalau tanah sudah punya mau, tokoh tersebut akan lolos dari jeratan dan bendungan lawan politik. Tanah punya mau itu adalah alam bawah sadar rakyat!”
Mendengar komentar tersebut, saya berguman dalam hati, ”Gusti ora sare (Tuhan tidak tidur)”.

Tidak ada komentar: